Akademi Keperawatan Bina Insani Sakti Kerinci

Akademi Keperawatan Bina Insani Sakti Kerinci
My Collage

Welcome To My Blog...

ALL ABOUT NURSES....

Selasa, 04 Agustus 2009

askep asfiksia

kerinci.......

ASFIKSIA

Penilaian bayi pada kelahiran adalah untuk mengetahui derajat vitalitas fungsi tubuh. Derajat vitalitas adalah kemampuan sejumlah fungsi tubuh yang bersifat essensial dan kompleks untuk kelangsungan hidup bayi seperti pernafasan, denyut jantung, sirkulasi darah dan reflek-reflek primitif seperti menghisap dan mencari puting susu. Bila tidak ditangani secara tepat, cepat dan benar keadaan umum bayi akan menurun dengan cepat dan bahkan mungkin meninggal. Pada beberapa bayi mungkin dapat pulih kembali dengan spontan dalam 10 – 30 menit sesudah lahir namun bayi tetap mempunyai resiko tinggi untuk cacat.

Umumnya penilaian pada bayi baru lahir dipakai nilai APGAR (APGAR Score). Pertemuan SAREC di Swedia tahun 1985 menganjurkan penggunaan parameter penilaian bayi baru lahir dengan cara sederhana yang disebut nilai SIGTUNA (SIGTUNA Score) sesuai dengan nama tempat terjadinya konsensus. Penilaian cara ini terutama untuk tingkat pelayanan kesehatan dasar karena hanya menilai dua parameter yang essensial.
Tabel 2. Cara Menetapkan Nilai SIGTUNA
Yang Dinilai 2 1 0 Nilai
Pernafasan Teratur Megap-megap Tidak ada
Denyut jantung > 100/menit < 100/menit Tidak ada
Jumlah nilai = Nilai SIGTUNA
Derajat vitalitas bayi baru lahir menurut nilai SIGTUNA adalah : (a) tanpa asfiksia atau asfiksia ringan nilai = 4, (b) asfiksia sedang nilai 2 – 3, (c) asfiksia berat nilai 1, (d) bayi lahir mati / mati baru “fresh still birth” nilai 0.
Selama ini umumnya untuk menilai derajat vitalitas bayi baru lahir digunakan penilaian secara APGAR. Pelaksanaanya cukup kompleks karena pada saat bersamaan penolong persalinan harus menilai lima parameter yaitu denyut jantung, usaha nafas, tonus otot, gerakan dan warna kulit. dari hasil penelitian di AS nilai APGAR sangat bermanfaat untuk mengenal bayi resiko tinggi yang potensial untuk kematian dan kecacatan neurologis jangka panjang seperti cerebral palsy. Dari lima variabel nilai APGAR hanya pernafasan dan denyut jantung yang berkaitan erat dengan terjadinya hipoksia dan anoksia. Ketiga variabel lain lebih merupakan indikator maturitas tumbuh kembang bayi.
Penanganan asfiksia pada bayi baru lahir bertujuan untuk menjaga jalan nafas tetap bebas, merangsang pernafasan, menjaga curah jantung, mempertahankan suhu, dan memberikan obat penunjang resusitasi. Akibat yang mungkin muncul pada bayi asfiksia secara keseluruhan mengalami kematian 10 – 20 %, sedangkan 20 – 45 % dari yang hidup mengalami kelainan neurologi. Kira-kira 60 % nya dengan gejala sisa berat. Sisanya normal. Gejala sisa neurologik berupa cerebral palsy, mental retardasi, epilepsi, mikrocefalus, hidrocefalus dan lain-lain.
Diagnosa Keperawatan
Gangguan pertukaran gas
Data penunjang/Faktor kontribusi :
Oksigenasi yang adekuat dari bayi dipengaruhi banyak faktor seperti riwayat prenatal dan intrapartal, produksi mukus yang berlebihan, dan stress karena dingin. Riwayat prenatal dan intrapartal yang buruk dapat mengakibatkan fetal distress dan hipoksia saat masa adaptasi bayi. Pertukaran gas juga dapat terganggu oleh produksi mucus yang berlebihan dan bersihan jalan nafas yang tidak adekuat. Stress akibat dingin meningkatkan kebutuhan oksigen dan dapat mengakibatkan acidosis sebagai efek dari metabolisme anaerobik.
Tujuan :
Jalan nafas bebas dari sekret/mukus, pernafasan dan nadi dalam batas normal, cyanosis tidak terjadi, tidak ada tanda dari disstres pernafasan.
Intervensi :
• Amati komplikasi prenatal yang mempengaruhi status plasenta dan fetal (penyakit jantung atau ginjal, PIH atau Diabetes)
• Review status intrapartal termasuk denyut jantung, perubahan denyut jantung, variabilitas irama, level PH, warna dan jumlah cairan amnion.
• Catat waktu dan pengobatan yang diberikan kepada ibu seperti Magnesium sulfat atau Demerol
• Kaji respiratori rate
• Catat keadaan nasal faring, retraksi dada, respirasi grunting, rales atau ronchi
• Bersihkan jalan nafas; lakukan suction nasofaring jika dibutuhkan, monitor pulse apikal selama suction
• Letakkan bayi pada posisi trendelenburg pada sudut 10 derajat.
• Keringkan bayi dengan handuk yang lembut selimuti dan letakkan diantara lengan ibu atau hangatkan dengan unit pemanas
• Amati intensitas tangisan
• Catat pulse apikal
• Berikan sentuhan taktil dan stimulasi sensori
• Observasi warna kulit, lokasi sianosis, kaji tonus otot
Kolaborasi
• Berikan oksigen melalui masker, 4 - 7 lt/menit jika diindikasikan asfiksia
• Berikan obat-obatan seperti Narcan melalui IV
• Berikan terapi resusitasi
DAFTAR PUSTAKA
Markum, A.H., Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, Jilid I, Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 1991
Melson, Kathryn A & Marie S. Jaffe, Maternal Infant Health Care Planning, Second Edition, Springhouse Corporation, Springhouse Pennsylvania, 1994
Wong, Donna L., Wong & Whaley’s Clinical Manual of Pediatric Nursing, Fourth Edition, Mosby-Year Book Inc., St. Louis Missouri, 1990
Doenges, Marilyn E., Maternal/Newborn Care Plans : Guidelines for Client Care, F.A. Davis Company, Philadelphia, 1988

Sabtu, 01 Agustus 2009

Askep Melanoma Maligna

BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Banyak sekali penyakit kulit yang timbul akhir-akhir ini akibat dari pola hidup dan lingkungan yang tidak kondusif di sekitar kita. Banyak penyakit seperti acne, tumor, dan kanker kulit yang dapat timbul pada setiap manusia. Hampir sedikit yang mengetahui penatalakasanaannya agar tidak terjadi komplikasi.
Oleh karena itu, penulis mencoba membuat sebuah makalah yang akan membahas tentang melanoma maligna yang merupakan salah satu dari penyakit kulit.

2. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah:
1. Apa yang di maksud dengan melanoma maligna?
2. Apa saja etiologinya?
3. Bagaimana klasifikasinya?
4. Bagaimana penatalaksanaannya?
5. Bagaimana asuhan keperawatannya?

3. TUJUAN MASALAH
1. Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan melanoma maligna.
2. Untuk mengetahui apa saja etiologinya.
3. Untuk mengetahui klasifikasinya.
4. Untuk mengetahui penatalaksanaanya.
5. Untuk mengetahui asuhan keperawatannya.






BAB II
PEMBAHASAN

1. DEFINISI
Melanomaligna adalah lesi berpigmen atau tidak yang tumbuh dengan cepat yang berasal dari jenis sel nevus jenis dermoepidermal.

2. ETIOLOGI
Penyebabnya belum di ketahui secara pasti namun peran sinar ultraviolet matahari sangat berperan. Melanoma di temukan hampir pada semua usia dan sring di temukan pada daerah tropik. Separoh dari melanoma terdapat di telapak kaki yaitu pada pinggir dan lengkung telapak kaki pda orang yang biasa tidak beralas kaki selebihnya terdapat di seluruh permukaan kulit. Di luar kulit melanoma dapat terjadi di rektum dan iris.

3. KLASIFIKASI MELANOMA MALIGNA
1. Lentigo Maligna Melanoma
Biasanya terjadi pada permukaan tubuh yang telanjang pada orang tua(65-70 tahun). Mereka adalah lesi-lesi yang berukuran besar(3-5 cm), datar, seperti bintik-bintik dengan permukaan berwarna-warni yang terdiri dari daerah-daerah coklat tua, atau hitam.
2. Superfisial Spreding Melanoma
Lebih kecil dari lentigo maligna melanoma (2-3 cm), dan timbul pada kelompok usia yang agak lebih muda (50-60 tahun). Permukaanya datar atau agak menonjol dengan tepi ireguler dan bertakuk.
3. Nodular Melanoma
Cenderung timbul pada usia lebih muda (30-60 tahun). Ukurannya lebih kecil dari pada 2 jenis lainnya dan menonjol di atas permukaan kulit sekitarnya. Warnanya hampir selalu coklattua atau hitam yang samarata.

Klasifikasi Menurut Clark
I. Sel melanoma berada di dalam epidermis tetapi tidak menembus membran basal
II. Melanoma sampai ke stratum papilare
III. Melanoma masuk antara di dermis papilare dan dermis retikulare
IV. Melanoma masuk ke dalam dermis retikulare
V. Melanoma masuk ke dalam jaringan subkutis

4. MANIFESTASI KLINIS
Gejala atau tanda yang patut di curigai sebagai tanda keganasan suatu lesi adalah perubahan warna seperti lebih terang atau lebih gelap, gatal, perubahan bentuk menjadi tidak teratur atau nevus bertambah luas serta bertambah tebal, pertumbuhan horizontal dan vertikal, permukaan tidak rata, dan akhirnya pembentukan tukak. Pendarahan menandakan proses sudah sangat lanjut.

5. PENATALAKSANAAN
1) Pembedahan
Eksisi dilakukan seluas 1 cm di luar tumor. Eksisi dengan menyertakan fasia profunda tidak mempengaruhi prognosis, demikian juga di seksi getah bening regional pada tumor yang belum menunjukkan tanda metastasis jauh.
2) Perfusi
Setelah eksisi melanoma di ekstremitas, dapat di lakukan perfusi untuk pembertian sitostatik ajuvan. Perfusi merupakan tindakan bedah yang agak besar sebab ekstremitas harus di kosongkan dari peredaran darah sehingga harus di kerjakan dengan pompa pengatur suhu dan oksigenator ( mesin jantung paru).
3) Imunologi
Melanoma memperlihatkan reaksi yang tidak di mengerti yang di duga berdasarkan pengaruh imunologik. Penggunaan vaksin sebagai terapi seperti vaksin bcg kadang menyebabkan regresi parsial untuk waktu terbatas tetapi tidak mempengaruhi prignosis. Setelah pembedahan perlu ditekankan pentingnya pengawasan berkala karena walaupun di temukan pada derajat satu, kemungkinan kambuh cukup besar.


6. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pangkajian
2. Diagnosa yang mungkin timbul pada melanoma maligna adalah:
1. Resiko Tinggi Infeksi B/D Kerusakan Perlindungan Kulit
2. Nyeri B/D Kerusakan Jaringan Kulit
3. Kerusakan Integritas Kulit B/D Keruskan Permukaan Kulit Karena Destruksi Lapisan Kulit
4. Gangguan Citra Tubuh B/D Krisis Situasi, Kecacatan

3. Intervensi Keperawatan
Diagnosa Keperawatan Intervensi Rasional
Resiko Tinggi Infeksi B/D Kerusakan Perlindungan Kulit




Nyeri B/D Kerusakan Jaringan Kulit





Kerusakan Integritas Kulit B/D Keruskan Permukaan Kulit Karena Destruksi Lapisan Kulit




Gangguan Citra Tubuh B/D Krisis Situasi, Kecacatan


1. Tekankan pentingnya teknik cuci tangn yang baik setelah kontak dengan pasien
2. Awasi tanda-tanda vital
3. Jauhkan pasien dari hal-hal yang dapat menyebabkan infeksi


1. Kaji tingkat nyeri
2. Berikan teknik nafas dalam
3. Berikan analgetik sesuai prosedur





1. Kaji kondisi kulit
2. Beri perawatan kulit dan kontrol infeksi
3. Ganti perban jika pasca operatif






1. Berikan harapan dalam parameter situasi individu dan jangan memberikan keyakinan yang salah
2. Beri penguatan positif terhadap kemajuan
3. Bersikap realistis dan positif selama pengobatan


1. Mencegah kontaminasi silang
2. Melihat keadaan umum pasien
3. Menurunkan resiko infeksi

1. Menentukan derajat nyeri
2. Mengalihkan perhatian agar dapat menghilangkan nyeri
3. Mengurangi nyeri
1. Memberikan data dasar
2. Menyiapkan jaringan untuk penanaman dan menurunkan resiko infeksi
3. Mencegah terjadinya infeksi

1. Meningkatkan perilaku positif dan memberikan kesempatan untuk menyusun tujuan dan rencana untuk masa depan berdasarkan realitas
2. Kata-kata penguatan dapat mendukung terjadinya perilaku koping positif
3. Meningkatkan kepercayaan dan mengadakan hubungan antara pasien dan perawat



BAB III
PENUTUP

1. KESIMPULAN
Berdsasarakan pemaparan diatas maka dapat di ambil kesimpulan bahwa Melanomaligna adalah lesi berpigmen atau tidak yang tumbuh dengan cepat yang berasal dari jenis sel nevus jenis dermoepidermal.

2. SARAN
Dalam penatalaksanaannya, melanoma maligna harus benar-benar memperhatikan resiko infeksi terutama pada saat melakukan pembedahan. Menghindari sinar ultraviolet untuk beberapa saat sangat di anjurkan.


















DAFTAR PUSTAKA
Saputra, Lyndon dr.2002.Kapita selekta kedokteran jilid 1. Batam:Binarupa Aksara. Hal 164-165.
Sjamsuhidayat, R, Wim de Jong. 2004.Buku Ajar Ilmu Bedah-Ed.2.Jakarta: EGC. Hal 695
Stephen J. Marx, M.D. “Hyperparathyroid And Hypoparathyroid Disorders”. The New England Journal of Medicine. Volume 343:1863-1875. December 21, 2000